Rayap merupakan bagian yang sangat penting di dalam daur ulang nutrisi tanaman melalui proses disintegrasi (pemecahan) dan dekomposisi material organik dari kayu dan serasah tanaman. Disisi lain, rayap seringkali juga merusak kayu bagian dari konstruksi bangunan dan material berselulosa lainnya di dalam bangunan gedung (Waryono, 2004: 3). Selain itu rayap juga menyerang pohon dan tanaman hidup sehingga menjadi hama yang potensial, terutama di areal perkebunan kelapa sawit, karet dan tanaman hutan industri seperti pinus dan lain-lain (Subekti dkk., 2008: 27).
Rayap termasuk ke dalam ordo Isoptera dari
famili Termitidae dan salah satu contoh genusnya adalah Macrotermes. Organisme ini memiliki tubuh yang lunak dan berwarna
terang. Sepintas
mirip dengan semut dan kebanyakan dijumpai pada banyak tempat seperti di hutan,
pekarangan, kebun dan bahkan di dalam rumah (Kambhampati dan Eggleton, 2000: 3). Beberapa ada juga yang hidup di
dalam kayu kering (Waryono, 2004: 2). Makanan utamanya adalah kayu dan
bahan-bahan dari selulosa lain serta jamur (Subekti, 2012: 58).
Organisme ini memiliki peranan sebagai pengurai
yang sangat menentukan dalam proses dekomposisi di alam, khususnya daerah
tropis. Selain itu juga sering dijadikan sebagai salah satu indikator kondisi
suatu habitat, terutama untuk jenis rayap yang terdapat di dalam tanah
(Syaukani, 2013: 43). Di dunia jenis-jenis rayap yang telah dikenal sampai saat
ini ± 2.000 spesies (dan sekitar 120 spesies merupakan hama), sedangkan di Indonesia
tercatat ± 200 spesies dan 20 spesies diantaranya telah diketahui berperan
sebagai hama perusak (Waryono, 2004: 3).
Menurut Tarumingkeng (2005: 5),
rayap pada dasarnya adalah serangga yang hidup pada daerah tropis dan
suptropis. Sebaran rayap sekarang sudah meluas ke daerah sedang dengan batas 50o LU dan 50o LS. Di daerah tropis
rayap ditemukan mulai dari pantai sampai ketinggian 3000 m di atas permukaan laut. Penyebaran rayap juga dipengaruhi
oleh keberadaan vegetasi, yang sangat berhubungan dengan suhu dan curah hujan,
sehingga sebagian besar rayap terdapat di dataran rendah tropis dan hanya
sebagian kecil ditemukan di dataran tinggi tropis (Prasetiyo dan Yusuf, 2005:
14).
Secara ekologis rayap sangat bermanfaat
untuk membantu menguraikan sisa-sisa kayu, serasah dan sejenisnya menjadi
unsur-unsur hara untuk mendukung kehidupan selanjutnya. Akan tetapi
permasalahan muncul bila serangga ini mulai menyerang berbagai material
kebutuhan manusia seperti bangunan gedung, peralatan rumah tangga yang tebuat dari
kayu (Astuti, 2013: 34). Banyak sekali kerugian ekonomis yang disebabkan oleh
serangan rayap, (Prasetiyo dan Yusuf, 2005: 28) melaporkan bahwa kerugian akibat
serangan rayap pada komponen kayu mencapai 1.6 Triliun rupiah pertahun. Siregar
dan Batubara (2007: 26) melaporkan kerugian ekonomis akibat serangan rayap di
dua kecamatan (Medan Denai dan Medan Labuhan) berkisar Rp. 91.894,4; hingga Rp. 164.170,3 dengan
persentase serangan sebesar 44,1%. Selain menyerang bangunan rayap juga
menyerang tanaman. Tanaman yang biasanya sering diserang oleh rayap seperti
kelapa sawit, coklat, singkong, karet, tebu, kapas, teh dan beberapa tanaman
perkebunan lain (Syaukani, 2013: 44).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar